Masih jelas dalam ingatan, bagaimana Indonesia seperti kebakaran jenggot ketika Batik diklaim negara tetangga Malaysia sebagai kekayaan budaya mereka. Klaim mengklaim ke depan akan semakin banyak terjadi jika kesadaran mendaftarkan hak kekayaan intelektual masih rendah dikalangan masyarakat dan pelaku usaha. Dan biasanya yang selalu korban adalah pelaku usaha kecil menengah. Untuk itulah akhir bulan November lalu, Tea Break Club Jogja mengundang narasumber Budi Agus Riswandi, SH.M.Hum selaku Executive Director HAKI di Jogja untuk sharing. Sosialisasi Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) sudah saatnya didengung-dengungkan bagi pelaku UKM. Terutama di Jogja yang terkenal masyarakatnya kreatif menciptakan karya inovatif. Tiru meniru karya menjadi hal yang sering terjadi. Akibatnya para kreator seringkali frustasi dibuatnya. Padalah, jika karya hasil inovasi atau penemuan-penemuan baru didaftarkan pada lembaga HAKI, justru bisa menjadi kekayaan yang tak ternilai.Karena kemudian ketika orang lain menirunya atau mengikutinya si penemu atau pemilik hak akan mendapatkan royalti dari hasil karyanya itu. “Sosialisasi ini penting agar pelaku usaha makin kreatif menciptakan produk inovatif,” kata Budi Agus dalam paparannya di Goebog Resto dalam suasana santai.
Para pelaku UKM yang hadir dalam forum Tea Break Club yang didukung majalah Wirausaha & Keuangan itu, terlihat antusias. Terbukti pertanyaan tindak lanjut yang mereka lontarkan seperti menyangkut lama pengurusan, hak yang didapat, dan biaya yang dibutuhkan. Dan Budi Agus menjelaskannya dengan gamblang dan sangat mudah dipahami. Tea Break Club yang diikuti lebih 20 pelaku UKM yang masing-masing memproduksi produk makanan seperti kripik salak Miraos, dan kedelai bubuk instan Soyanatura. Hadir juga pemilik B.Net. Halal, SAS Center yang bergerak dibidang konsultan dan pendampingan bisnis, dan pemilik stasiun radio. Pertemuan rutin setiap bulan ini berjalan santai, rilek dan penuh keakraban. Ke depan, Tea Break Club Jogja dapat diakses melalui internet. Jadi, anda harus hadir pada pertemuan berikutnya. Anda akan mendapatkan jaringan, informasi dan peluang bisnis. (Agus/AM)
Dari Sarasehan Pojok Kraton Jogja
KalauBesar Ngapain dikecilin!
(Bisnis hebat karena akrab dengan Media)
Judul ini cukup menggelitik dan sangat menarik perhatian bagi para peserta sarasehan Pojok Kraton yang digelar setiap sebulan sekali oleh Pengurus DPD HIPMI DIY. Tiga pembicara yang hadir pada siang itu, yaitu Rony Sugiantoro (dari SKH Kedaulatan Rakyat), Suryono Ekotama (SAS Center dan Penulis Buku Bisnis) dan Fia Afianti (Pengusaha dan Owner Fia Roti), masing masing mebeberkan kiat dan pendapat mereka mengenai kiat sukses berbisnis. Rony Sugiantoro menekankan pada media relation yang akan berperan penting dalam bisnis, karena akan 1) membentuk citra usaha, 2) meningkatkan kinerja, dalam aspek : layanan, komunikasi, loyalitas, produktivitas dan etika dan moral. 3) mening-katkan kecintaan publik akan usaha kita.
Bagi perusahaan atau pelaku usaha bisa berperan aktif untuk memajukan usahanya bila selalu bersinergi dengan media (cetak atau elektronik) melalui : kunjungan media, mengundang media, press release, press conference, press tour, pelatihan media dan pariwara, tandasnya dalam saresahan tersebut. Sedang Suryono ekotama menegaskan bahwa media sangat ampuh dalam usaha membesarkan bisnis, karena melalui media akan bisa dinformasikan kepada masyarakat luas mengenai usaha yang sedang berjalan, produk apa yang diperdagangkan, branding, dan lain-lain. Melalui media, maka pengusaha/pelaku usaha dan produk kreatif yang dihasilkan akan semakin popoler, imbuhnya.
Peran media sangat bagus bila selalu ada kesinambungan dalam menciptakan hubungan yang harmonis antara pelaku usaha, pemilik produk kreatif dan media itu sendiri, hal ini melalui jalan bersilaturrahmi secara kontinyu. Tanpa media bisa-bisa pelaku usaha akan berjalan ditempat, paparnya di akhir sarasehan tersebut. Bagi Fia Afianti owner dari Fia Roti ini menjelaskan bahwa, dia bisa terkenal dan bisnis lancar karena murni 100% peran media cetak (lokal maupun nasional). Bahkan melalui usaha yang digelutinya sampai sekarang ini tidak bisa berkembang tanpa media.
Dari diwawancari oleh wartawan sampai beriklan dia selalu kontinyu dalam rangka mengembangkan usahanya. Sebagai kesimpulan sarasehan itu, ketiga nara sumber berpendapat bahwa, media sangatlah membantu bagi para pelaku usaha untuk dapat meningkatkan keuntungannya dan bisa dikenal oleh masyarakat. n agus





