:: Wirausaha & Keuangan ::

Jatuh Bangun di Bisnis Besi Tua Kini Jadi Kontraktor dan Peternak Property

E-mail Cetak PDF

H. ACHMAD MAIDI

Memilih menjadi pewirausaha bagi orang-orang yang tak mengenyam pendidikan formal  tinggi adalah keniscayaan. Dengan pendidikan formal rendah, cita-cita apa yang dapat diraih selain menjadi pewirausaha? Menjadi pejabat tak mungkin. Menjadi pegawai dengan pangkat tinggi juga mustahil. Lantas?

Pendidikan formal rendah, bukan berarti tak memiliki harapan dan cita-cita. Karena itu, meski tak sempat sekolah, namun nara sumber majalah WK yang hadir dalam rubrik cover story kali ini selalu bersemangat untuk terus giat belajar. Belajar bisnis dari siapa saja yang ia ditemui, termasuk memungut berbagai pengalaman di lapangan yang terjadi sehari-hari.

Saat wawancara dilakukan,  ia baru saja menyelesaikan kursus privat berbicara bahasa inggris dari seorang guru privat di salah satu rumahnya yang megah, di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan.

“Saya ingin kalau bertemu mitra bisnis saya dari Malaysia atau Singapura dapat mengerti dan berbicara bahasa inggris dengan baik,” ujar H Achmad Maidi (45), pebisnis besi tua, yang kini merambah menjadi kontraktor dan pebisnis property.

 

Kekuatan Cita-Cita

Sejak kecil Achmad Maidi ditempa untuk hidup mandiri. Pendidikan formal yang hanya tamat tsanawiyah (setara SD) tak menghalanginya untuk meraih keinginan untuk sukses, dan menggapai cita-citanya.

“Saya berfikir, mana mungkin orang kecil seperti saya bisa hidup enak kalau tidak jadi pengusaha. Karena itu, semenjak saya dapat mencari uang sendiri saya memutuskan bekerja mandiri,” ujarnya.

Menurut  H Achmad Maidi, menjadi pewirausaha,  meskipun kecil masih lebih menyenangkan. Selain tantangannya banyak, ia tahu syarat menjadi pewirausaha tak perlu harus pendidikan formal tinggi-tinggi. Lingkungan keluarganya, yang juga sebagian besar juga adalah pewirausaha menjadikan ia memiliki prinsip, suatu saat, kelak ia ingin juga menjadi seorang pebisnis hebat.

Namun ia mengetahui bahwa menjadi pewirausaha tidaklah semudah membalik tangan. Harus mau belajar dari bawah. Mau berpeluh dan sengsara. Mau merajut nasib dari nol, mau berakit-rakit ke hulu, dan mengetahui risikonya.

Risiko terburuk sebagai seorang pewirausaha adalah  bisa saja bisnis yang dirajut bertahun-tahun gagal, dan mengalami kebangkrutan. Namun risiko yang lain, menjadi pewirausaha selalu memiliki harapan, harapan untuk hidup lebih baik.

Pengalaman itu benar-benar dilalui   H. Achmad Maidi.  Pria asli Madura,  kelahiran Surabaya ini pernah jaya berbisnis besi bekas, tetapi ia juga pernah terpuruk dengan produk yang sama. Tahun 2000 lalu adalah masa suram bagi bisnisnya. Di saat usaha jual beli besi tua yang dirintis mulai tumbuh dan berkembang, krisis ekonomi yang terjadi tahun 1998 hingga tahun 1999 lalu menyeret usahanya ke jurang kebangkrutan.

“Saat itu usaha saya terlilit utang. Saya memperoleh pinjaman dalam bentuk mata uang dollar Amerika, sedangkan nilai tukar mata uang dollar terhadap rupiah melejit tak terkendali. Rumah, mobil yang saya miliki pun dijual untuk melunasi hutang, sementara usaha sedang lesu-lesunya.” Paparnya.

Bagi suami dari Hj Saimah Sunarti ini, bangkrut tak membuatnya putus asa. Justru ia belajar, bagaimana membangun usaha secara benar dan mengendalikan hutang-hutangnya.   Ia pun mulai merintis lagi usahanya, menyambung relasi-relasi bisnisnya.

Sebulan, dua bulan, dan beberapa bulan berikutnya usahanya mulai menggeliat setelah berbagai kesulitan menerpanya. Order-order pembelian, permintaan pemborongan pembelian besi tua mulai banyak ia dapatkan. Ia bahkan pernah membeli kapal-kapal tua dari Singapura untuk ditarik ke Jakarta dan diambil besi tuanya. Bahkan, ia juga pernah memborong pembelian besi tua dari proyek renovasi bangunan dari sebuah proyek besar dengan ribuan ton besi bekas di Jakarta, dengan nilai miliaran rupiah.  Aktifitas bisnisnya bukan hanya di Jakarta, ia juga merambah ke kota lain, seperti Medan, Pekanbaru, Palembang, Surabaya, bahkan Makassar.    

 

Dalam Berbisnis Pengalaman Adalah Guru Terbaik

Pengalaman adalah guru terbaik. Berbekal pengalaman kegagalan bisnis yang lalu, H Achmad meretas kembali bisnis yang pernah memberikan kejayaan sebelumnya. Bisnis jual beli dan pengumpul besi tua yang menjadi fokus bisnisnya dikembangkan menjadi jual beli dan pengepul semua logam, mulai dari besi, perunggu, timah, baja, dll. Alasannya, permintaan pasar terhadap produk logam semakin berkembang dan persaingan bisnis pembelian besi bekas semakin ketat.

Untuk meningkatkan nilai tambah dari produk-produknya, selain dijual ke pusat peleburan logam, H Achmad juga memilah-milah logam-logam yang masih dapat dipergunakan untuk berbagai bahan bangunan, mulai dari pembuatan rangka baja, besi tulang untuk bangunan, dan lain sebagainya. Ia juga mengembangkan pembuatan kusen, berbagai cendela rumah, serta menyuplay kebutuhan kayu untuk pembuatan rumah.

Alhasil kegiatan bisnis H Achmad yang berada di Kawasan  Jalan Padurenan H Cokong RT11/10 Nomor 4 Kelurahan Karet, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan ini kian bertambah. Nilai jual produknya juga meningkat. Kini, bisnisnya bukan saja menjadi pedagang pengumpul besi tua, tetapi telah menjadi industri penyedia berbagai bahan bangunan, mulai dari besi, baja,  untuk penguat bangunan dan rangka bangunan, hingga aneka kusen dan cendela yang mensuplay kontraktor – kontraktor bangunan di seantero Jabodetabek. 

Dalam perjalanan bisnisnya, H Achmad mulai tertarik menjadi kontraktor bangunan. Kegiatan bisnis ini dilakukan karena ia sangat mehamami perhitungan bahan baku dan biaya pekerjaan dalam pembangunan sebuah gedung atau bangunan.

“Awalnya saya mencoba memborong pekerjaan pembangunan rumah, beberapa unit saja, tetapi kemudian berkembang menjadi kontraktor pembangunan rumah tingkat,  berpuluh-puluh unit di kawasan Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Alhamdulillah usaha ini juga jodoh,” cetusnya.

Dengan perhitungan yang matang, serta di dukung oleh para karyawannya yang setia, usahanya yang semula hanya jual beli besi tua,  kini CV Sumber Rejeki, yang didirikannya menjadi group usaha besar yang menyediakan berbagai bahan bangunan, kontraktor, dan bisnis property cukup dikenal.

 

Dari Kontraktor ke Bisnis Property  

Bisnis adalah perjalanan.

H Achmad Maidi terus mengasah kepiawaiannya berbisnis dengan memegang 3 prinsip dalam menjalani bisnisnya. Yang pertama, jujur bermitra dengan pihak lain, yang kedua, telaten dan bersungguh-sungguh dalam menekuni bisnis, dan ketiga selalu mencari peluang-peluang baru agar bisnis dapat berkembang lebih besar.

Dalam berbisnis ia juga memanfaatkan kredit bank untuk memperbesar usahanya. Mula-mula pinjaman kredit ke bank hanya sebesar Rp50juta pada pada tahun 2004 lalu. Modal ini digunakan untuk menambah modal usaha, dan kredit yang diperoleh terus bertambah setiap tahun. Dalam waktu tak lebih dari 4 tahun, bank telah memberi kepercayaan untuk mendapatkan kredit dari rausan juta, hingga kini senilai miliaran rupiah.

Menurut H Achmad, kunci untuk memperoleh kredit dan kepercayaan dari perbankan adalah kemampuan memiliki asset dengan baik. Asset-asset yang dikumpulkan digunakan selain untuk memperkuat modal usaha, juga dapat digunakan sebagai jaminan kredit jika sewaktu-waktu mengajukan kredit modal ke perbankan. 

“Selama berbisnis, keuntungan yang saya peroleh saya gunakan untuk membeli tanah dan property. Tanah saya beli, saya urus sertifikatnya, kemudian saya bangun property dalam bentuk rumah atau ruko. Modal untuk membangun saya pinjam ke bank. Setelah bangunannya jadi, saya tawarkan untuk dijual, begitu seterusnya. Bisnis jual beli rumah, dan bisnis property ini ternyata menggiurkan,” cetusnya.

Langkah bagaimana memanage usahanya, menjadi kontraktor, investasi property ia lakukan sambil berjalan. Artinya, bisnis itu mengalir begitu saja, bersamaan dengan datangnya peluang yang ada. Tidak ada kiat khusus untuk memulainya. Saat ditanya darimana ia belajar bisnis property, ia mengungkapkan bahwa semuanya dilakukan dari yang kecil-kecil, sampai ia mengetahui peluang besar yang ada di bisnis tersebut. Bahkan ia tak menampik jika pengetahuan berbisnis justru berawal dari diskusi dengan orang-orang perbankan.   

“Peluang-peluang itu kadang datang dengan sendirinya. Ada orang yang menawarkan tanah, kemudian saya bangun. Uang untuk membangun saya dapatkan dari pinjam ke perbankan. Setelah itu bangunaan dijual, hutangnya dilunasi, itu saja caranya,” ujar  ayah tiga anak yang berharap ketiganya kelak semuanya menjadi pewirausaha.

Dalam dua tahun terakhir, H Achmadi, cukup banyak membangun rumah kost ekslusif di Jakarta, dengan jumlah mencapai puluhan rumah kost dengan kisaran sewa per bulan Rp1-1,5juta per bulan.  Sebagian biaya dari membangun rumah kost ia dapatkan dari kredit perbankan, dan saat ini uang hasil sewa rumah kost sudah dapat digunakan untuk membayar cicilan kredit bank.

Semudah itu berbisnis?. Tentu mudah bagi mereka yang telah piawai. Andapun akan piawai menjalani bisnis apa saja, jika anda mau memulainya, mau belajar terus menerus dan berani menghadapi risiko yang terjadi.

Jika anda telah mengetahui liku-likunya berbisnis, kelak anda tidak perlu mencari uang, karena uanglah yang akan datang kepada anda. Seperti yang dituturkan H Achmad Maidi kepada WK.

“Kalau dahulu saya bekerja keras untuk mencari uang, sekarang saya melihat uang datang kepada saya,” ujar pengusaha yang gemar berderma ini.

 

 

Seminar 1

jasa website toko online

Seminar 2