Sudah jam delapan lewat, tapi peserta diskusi balai kampung masih belum lengkap. Jika tidak ada sesuatu yang memaksa, Bang Sinaga tidak akan terlambat, karena selama ini dia adalah anggota diskusi yang paling rajin. Dan, panjang umur lah Bang Sinaga! Belum selesai kami saling bertanya tentang kebelumberadaannya, suara Bang Sinaga –yang selalu muncul lebih dulu dibanding raganya– menyeruak hening malam. ”Malam, Kawan-kawan!” gelegar suaranya terdengar sangat mantap.
”Malam juga, Bang...,” sambut kami bersamaan. Beberapa jurus kemudian, performa badannya yang tinggi tegap segera terlihat, dan tanpa basa-basi, segera menyambar sepotong pisang goreng di hadapan saya. Meringis sebentar, dan... lheb! Masuklah sebagian besar potongan pisang goreng buatan Cak Rifan itu. ”Wah, wah, main embat saja Abang kita ini. Modal dikit dong, Bang!” kata Uda Mail, protes. ”Haha... sama keluarga sendiri dilarang protes!” jawab Bang Sinaga.
Kami tertawa renyah. Bagi kami, hal seperti itu memang sudah biasa. Tiba-tiba, ”Mas, bicara modal nih, aku punya titipan pertanyaan.” Sambil bertanya, Uda Mail berpindah tempat duduk, mendekat ke arah saya. ”Titipan? Emang pertanyaan siapa, Uda?” justru Bli Wayan yang bertanya. ”Titipan temanku di Pasar Cipulir,” terang Uda Mail. “Ceritanya, beberapa waktu lalu, ia mengajukan kredit ke sebuah bank. Rencananya, dia mau beli beberapa mesin bordir untuk pabriknya yang di Bekasi.” ”Terus?” tanya Bang Sinaga kurang sabar.
”Rupanya, dia diharuskan menyediakan modal sendiri juga untuk pembelian itu. Katanya, paling tidak 35 persen dari total harga seluruh mesin yang mau dibeli,” lanjut Uda Mail. ”Trus, apa pertanyaannya?” tanya Bang Sinaga lagi. Aneh juga, kok malah Bang Sinaga yang tidak sabar, dibanding Uda Mail sendiri. Hehe.... ”Abang kenapa, sih? Kok jadi nggak sabaran gitu...,” kata saya.”Mas Ndoet kok heran sih. Bukannya sudah dari dulu Bang Sinaga enggak sabaran? Hahaha...!” cerocos Bli Wayan memotong kalimat saya. ”Hahaha...,” kami semua tertawa. Bang Sinaga ikut tertawa, meski dalam hatinya pasti berkata, sialan! Hehe....
”Pertanyaannya, apa memang harus begitu? Iya kan, Uda?” saya mencoba menebak. ”Iya, Mas. Sebenarnya, bagaimana sih, Mas?” jawab Uda Mail balik bertanya. Saya mencicipi dulu kopi susu yang baru saja dibuat Cak Rifan, sebelum menindaklanjuti pertanyaan Uda Mail. ”Memang begitu, Uda,” kata saya mulai menjawab. ”Atas setiap pinjaman, senantiasa dituntut adanya modal sendiri. Bank sering menyebut istilah ini dengan Sharing Dana Sendiri alias SDS. Karena memang, bank tidak mungkin memberikan 100 persen kebutuhan pemohon kredit. Benar istilah Uda Mail ke Bang Sinaga tadi : kalau mau dapat yang enak dari bank, ya modal dikit dong! Hehe....”
”Malam juga, Bang...,” sambut kami bersamaan. Beberapa jurus kemudian, performa badannya yang tinggi tegap segera terlihat, dan tanpa basa-basi, segera menyambar sepotong pisang goreng di hadapan saya. Meringis sebentar, dan... lheb! Masuklah sebagian besar potongan pisang goreng buatan Cak Rifan itu. ”Wah, wah, main embat saja Abang kita ini. Modal dikit dong, Bang!” kata Uda Mail, protes. ”Haha... sama keluarga sendiri dilarang protes!” jawab Bang Sinaga.
Kami tertawa renyah. Bagi kami, hal seperti itu memang sudah biasa. Tiba-tiba, ”Mas, bicara modal nih, aku punya titipan pertanyaan.” Sambil bertanya, Uda Mail berpindah tempat duduk, mendekat ke arah saya. ”Titipan? Emang pertanyaan siapa, Uda?” justru Bli Wayan yang bertanya. ”Titipan temanku di Pasar Cipulir,” terang Uda Mail. “Ceritanya, beberapa waktu lalu, ia mengajukan kredit ke sebuah bank. Rencananya, dia mau beli beberapa mesin bordir untuk pabriknya yang di Bekasi.” ”Terus?” tanya Bang Sinaga kurang sabar.
”Rupanya, dia diharuskan menyediakan modal sendiri juga untuk pembelian itu. Katanya, paling tidak 35 persen dari total harga seluruh mesin yang mau dibeli,” lanjut Uda Mail. ”Trus, apa pertanyaannya?” tanya Bang Sinaga lagi. Aneh juga, kok malah Bang Sinaga yang tidak sabar, dibanding Uda Mail sendiri. Hehe.... ”Abang kenapa, sih? Kok jadi nggak sabaran gitu...,” kata saya.”Mas Ndoet kok heran sih. Bukannya sudah dari dulu Bang Sinaga enggak sabaran? Hahaha...!” cerocos Bli Wayan memotong kalimat saya. ”Hahaha...,” kami semua tertawa. Bang Sinaga ikut tertawa, meski dalam hatinya pasti berkata, sialan! Hehe....
”Pertanyaannya, apa memang harus begitu? Iya kan, Uda?” saya mencoba menebak. ”Iya, Mas. Sebenarnya, bagaimana sih, Mas?” jawab Uda Mail balik bertanya. Saya mencicipi dulu kopi susu yang baru saja dibuat Cak Rifan, sebelum menindaklanjuti pertanyaan Uda Mail. ”Memang begitu, Uda,” kata saya mulai menjawab. ”Atas setiap pinjaman, senantiasa dituntut adanya modal sendiri. Bank sering menyebut istilah ini dengan Sharing Dana Sendiri alias SDS. Karena memang, bank tidak mungkin memberikan 100 persen kebutuhan pemohon kredit. Benar istilah Uda Mail ke Bang Sinaga tadi : kalau mau dapat yang enak dari bank, ya modal dikit dong! Hehe....”
Uda Mail diam. Tampaknya Uda belum begitu paham.”Begini, Uda. Kredit bank, sifatnya adalah membantu. Membantu apa? Membantu kesulitan permodalan atau kebutuhan dana segar atau bantuan dana model apapun yang diperlukan nasabah yang bertujuan mengembangkan sayap usahanya. Diksi atau istilah ‘membantu’, berarti melengkapi atau menggenapi. Namanya melengkapi, berarti sebenarnya sudah ada, tapi belum cukup. Begitu kan?”
Saya mencoba menjelaskan dalam bahasa yang paling sederhana, demi melihat kening Uda Mail yang terus berkerut. ”Intinya, bank siap membantu kekurangan dana si pemohon. Ingat, hanya sebagian. Bukan seluruhnya,” saya menegaskan. ”Nah, yang ditanyakan, kenapa begitu, Mas?” kali ini Bang Sinaga yang bertanya. ”Ya. Pertama, untuk melihat kemampuan sendiri si calon nasabah. Artinya, sampai pada taraf seperti apa si pemohon bisa membesarkan usahanya tanpa modal dari pihak lain? Sebenarnya ini bukan hal yang njlimet, karena dengan persyaratan bahwa usaha sudah berumur lebih dari 2 tahun dan telah mampu menghasilkan laba pada periode usaha terakhir, dapat dipastikan bahwa si pemohon memiliki modal. Ya nggak?” saya mengajukan pertanyaan retoris.
“Bagaimana mungkin, usaha bisa berjalan dan bahkan bertahan sekian lama tanpa adanya modal? Nggak mungkin kan?” tanya saya lagi, kali ini meminta pembenaran. Ketiga sahabat saya memberi pembenaran dengan anggukan kepalanya. ”Tapi, bukan keberadaan modal saja yang dilihat. Dalam aspek modal, nantinya akan dilihat perbandingan antara hutang yang dimiliki dengan modal sendirinya. Karena bisa jadi, ternyata sebagian besar modalnya berasal dari hutang,” saya mencoba menjelaskan secara teknis bank.
Ketiga sobat karib saya masih manggut-manggut. Saya melanjutkan, sebelum ada pertanyaan baru. ”Dalam analisa bank, itu disebut analisa DER. Debt to Equity Ratio. Ada prosentase maksimal yang diperbolehkan, di mana biasanya bank menetapkan bahwa hutang yang saat ini dimiliki tidak boleh lebih dari 1,5 kali modal sendirinya. ”Kalau diberi kredit lagi, bisa-bisa hampir seluruh modal usahanya berasal dari hutang dong?” Bli Wayan mulai berani berkomentar. Tampaknya dia mulai ngeh dengan apa yang saya jelaskan. Syukurlah.
”Betul sekali, Bli. Dan itu tidak sehat bagi si nasabah, terlebih lagi bagi bank. Karena, kemungkinan tidak sanggup mengembalikan kredit menjadi sangat besar. Kalau kita tumpuki dengan hutang terus, sementara kemampuan untuk membayar hutang lamanya saja belum teruji, kapan dia bisa mengembalikan hutangnya?” jawab saya. Diskusi terhenti, ketika Cak Rifan masuk ke pendopo untuk mengantar kopi pahit pesanan Bang Sinaga.
”Kopinya, Bang,” Cak Rifan mempersilakan. Di antara kami, memang baru Bang Sinaga saja yang telah berhasil memegang komitmen untuk mengurangi asupan gula. Tiga yang lain, masih sohiban baik dengan si pemberi rasa manis itu. Jujur saja, saya belum bisa membayangkan bagaimana rasanya minum kopi tanpa gula... hi!
”Kedua,” saya melanjutkan. ”Keberadaan modal sendiri atas rencana baru –terutama dalam pengadaan barang investasi– menunjukkan keseriusan si calon debitur dalam melaksanakan rencananya. Tentang penyediaan SDS dalam kredit investasi, memang berbeda dengan penyediaan SDS pada kredit modal kerja. Kalau pada kredit modal kerja, SDS tidak harus berupa dana tunai. Ia bisa berupa aktiva lancar di luar kas tunai, yang terwujud dalam bentuk piutang dagang maupun persediaan barang dagangan. Nah, pada kredit investasi, SDS debitur harus berwujud penyediaan uang tunai, baik yang diperoleh dari akumulasi keuntungan maupun setoran modal baru.” ”Kaitannya dengan keseriusan si pemohon?” tanya Bli Wayan kemudian.
”Jika pemohon tidak serius dan yakin akan rencana investasinya, ia pasti akan keberatan untuk menyediakan SDS. Kenapa? Karena ia sendiri tidak yakin akan keberhasilan proyek yang akan dikerjakannya. Artinya, dengan kadar optimisme yang rendah, tentu si pemohon tidak mau kehilangan uang yang harus dia masukkan dalam SDS itu,” jawab saya. ”O, begitu ya. Masuk akal juga,” komentar Uda Mail. ”Bukan masalah masuk akal atau tidak, Uda. Itu memang pertimbangan dari sononya. Dari banknya,” komplain saya. ”Ya. Iya, Mas,” ujar Uda Mail sambil tertawa kecil.
“Mengenai jumlahnya?” pertanyaan pintar keluar dari bibir Bang Sinaga.
”Seperti yang dikatakan kawan Uda Mail. Untuk investasi, biasanya bank hanya bersedia membantu sampai dengan maksimal 65 persen dari total kebutuhan. Untuk kredit modal kerja, biasanya 70 berbanding 30. Artinya, bank bersedia membantu hingga 70 persen, sementara SDS diwajibkan minimal 30 persen,” jawab saya. Bang Sinaga mengangguk puas. “Ada lagi alasan ketiga,” kata saya lagi. Selesai mengatakan kalimat terakhir, saya diam. Cukup lama. Uda Mail, Bli Wayan dan Bang Sinaga terlihat bengong. ”Ada apa, Mas?” tanya Bang Sinaga begitu diam saya menginjak menit ketiga. ”Hmm.., pingin ditanya aja,” jawab saya asal. “Sialan kali kau!” kalimat khas Bang Sinaga pun terlontar. Hahaha! Uda Mail dan Bli Wayan ikut terkekeh.
”Serius sekarang,” kata saya pada akhirnya. ”Ketiga, adanya SDS juga merupakan pengikat moral bagi si nasabah. Karena dengan adanya SDS tersebut, modal yang dikeluarkan bukan hanya milik bank. Tapi, miliknya juga.” Bli Wayan yang tadinya hanya mendengarkan sambil lalu sambil mempermainkan garpu peraknya, mengalihkan pandangannya ke saya. Saya menangkap kebelumpahaman di mata Bli Wayan. ”Siapa sih Bli, orangnya, yang mau kehilangan begitu saja uangnya?” kata saya tanpa menunggu keluarnya pertanyaan dari Bli Wayan.
”Begini,” saya meneruskan omongan yang sejenak terputus. ”Artinya, kalau si pemohon juga turut andil modal atas proyek atau rencana barunya, tentu ia ingin –bahkan harus– memastikan bahwa usahanya bisa balik modal. Artinya, uang modal harus bisa kembali. Dengan semangat dan ikatan moral seperti itu, maka si pemohon akan berupaya sekuat tenaga untuk mewujudkannya itu manakala proyek itu jadi dilaksanakan. Di sinilah ikatan moralnya, Bli.”
”Secara tidak langsung, pengembalian kredit kepada bank menjadi lebih terjamin juga ya, Mas?” kali ini lontaran Uda Mail. ”Seratus, bahkan lima ratus untuk Uda,” jawab saya senang. ”Betul sekali, Uda. Jika rencana pengembangan terlaksana dengan baik, maka perkembangan usaha yang diproyeksikan dalam analisa kredit akan terwujud. Dari situ, keuntungan akan meningkat. Kewajiban kepada bank pun akan dapat terpenuhi. Betul tidak?” tanya saya dengan menirukan intonasi Aa Gym pada kalimat terakhir. ”Betul, Aa...,” kata Uda Mail dan Bli Wayan berbarengan.
Hanya Bang Sinaga yang diam. Entah kenapa, sampai tiba-tiba, ”Mas Ndoet, nanti saya ikut membayar pisang goreng Cak Rifan!” Olala! Saya tahu persis, Bang Sinaga hanya pura-pura tersindir dengan pembicaraan barusan. Sengaja ia lakukan itu untuk meramaikan suasana.Dan benar saja, seketika pendopo menjadi kehilangan heningnya. Selain derai tawa, yang terdengar hanyalah suara Bli Wayan, ”Jadi, ngasih SDS nih, ceritanya? ”Tawa kami semakin membahana.





