Krisis keuangan yang melanda Amerika Serikat, yang ‘rasanya’ sudah merembet ke berbagai negara, termasuk Indonesia membuat banyak orang bertanya-tanya. Apa gerangan yang terjadi, bagaimana dampaknya, apa yang dapat kita lakukan. Bagi pebisnis besar, dan pengelola perusahaan besar, pergerakan situasi ekonomi dari detik ke detik harus diikuti. Banyak hal yang terkait, mulai dari nilai tukar mata uang, kebijakan pemerintah, hingga perubahan pasar. Semuanya terkait, dan karenanya, perubahan itu harus dipelototi setiap saat.Bagi perusahaan yang telah memasuki pasar saham, denyut bursa dari waktu kewaktu terus diperhatikan. Lantas, bagaimana dengan usaha mikro, kecil dan menengah? Banyak orang, bahkan sebagian ekonom Indonesia, mendefinisikan usaha mikro, kecil dan menengah adalah ekonomi mikro, yang notabene, bukanlah sesuatu yang penting untuk memikirkan krisis keuangan yang terjadi saat ini, karena ini masalah ekonomi makro?
Padahal jelas, seperti yang diungkap para ekonom yang lain, bahwa ekonomi mikro berbicara tentang ekonomi yang menyangkut tingkah laku seseorang atau suatu institusi terkait dengan urusan ekonomi mulai dari informasi, rencana, ekspektasi, aksi, dan antisipasi. Ekonomi mikro mulai dari yang sederhana seperti supply dan demand - sampai ke yang kompleks. Ekonomi mikro adalah "atom" dan mekanik-nya segala kegiatan ekonomi -- tidak peduli sebesar apa pun aktornya.
Jika Majalah WK berkunjung ke sebuah institusi, seperti Bank Indonesia, sebagai media yang mengusung segmentasi pembaca bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah, WK ingin memastikan lembaga ini dalam segala kebijakannya berpihak kepada usaha mikro, kecil dan menengah Indonesia, dan mengabaikan langkah-langkah sebagian yang dahulu (BLBI) pernah terbukti tidak tepat. Pembaca, sembari terus beraktifitas, nikmati WK edisi ini yang kami kemas dengan ringan, santai dan mudah. Kami ingin belajar bisnis, dan melakukan bisnis dapat dilakukan dengan mudah. Salam.
Isdiyanto
Pemimpin Umum/Redaksi
Majalah Wirausaha dan Keuangan
Ralat
Pada Edisi September 2008, halaman 36, kolom 2 tertulis nama Petrus Cornelius Marsana. Seharusnya Petrus Canisius Marsana. Demikian kesalahan penulisan telah diperbaiki. Mohon maaf.





