Pertengahan Januari 2009 lalu, Majalah WK diundang untuk hadir dalam Lokakarya Mentor Bisnis yang diselenggarakan oleh Indonesia Business Links bekerjasama dengan The Prince’s Youth Business International (YBI), sebuah lembaga nirlaba yang peduli pada tumbuhnya kewirausahaan bagi anak-anak muda. Lembaga ini berkedudukan di Inggris. Siapa suka menjadi sukarelawan mentor bisnis? Bukan pertanyaan yang mudah, juga bukan perkara gampang. Menjadi sukarelawan mentor bisnis, adalah pekerjaan yang hanya dapat dimiliki secara ikhlas oleh orang-orang yang memahami bahwa ada kehidupan lagi sesudah kehidupan ini. Menjadi mentor bisnis adalah sebuah kebaikan. Tentu. Tetapi berbuat baik saja tidak cukup, perlu strategi pencapaian yang tersistem sehingga mendapatkan hasil yang diharapkan. YBI sendiri telah berkiprah secara internasional dengan membantu anak-anak muda di China, Vietnam, Srilangka, Kanada, Skotlandia, dan di 38 negara lainnya untuk berkontribusi secara langsung dengan menciptakan pewirausaha-pewirausaha baru dengan menyediakan mentor bisnis dan dana.
Mentor Bisnis, Perlukah
Mengapa mentoring bisnis perlu? Karena saat ini masalah pengangguran menjadi hal yang sangat mengerikan. Banyak anak-anak muda yang tidak memiliki harapan, lulusan sekolah menengah atas, hingga perguruan tinggi tak memiliki gairah karena ketiadaan kesempatan seperti yang diinginkan. Mereka, dengan segala potensi yang ada, masih dapat dilecut untuk membangun usaha sendiri secara kecil-kecilan yang dapat menyediakan lapangan pekerjaan, setidaknya bagi dirinya sendiri, mungkin juga saudara, teman-teman, atau tetangga terdekatnya. Berdasarkan hasil kajian yang dilansir YBI terungkap bahwa 80 persen semua lapangan pekerjaan diciptakan oleh kreasi dari usaha kecil dan menengah. Data ini sangat penting disajikan dalam dunia yang sedang dilanda krisis saat ini, termasuk di Indonesia.
Data ini juga sedang menggambarkan bahwa tidak akan pernah ada masalah dengan pengangguran jika anak-anak muda dibangun keberaniannya untuk menjadi pewirausaha. Dan ini sangat penting bagi Indonesia, mengingat jumlah pengangguran intelektual (lulusan SLTA dan Perguruan Tinggi) mencapai 10juta orang lebih. Agar mereka sukses menjadi pewirausaha, sejak awal, mereka, harus didampingi oleh seorang sukarelawan mentor bisnis handal, yang membantunya secara sukarela, tidak dibayar, dan menuntunnya menapaki menjadi pebisnis sejati. Lihat Boks n
Studi Kasus Mentoring : Kisah Eric
Eric adalah seorang disainer software IT yang sukses dan telah menjual sebuah software bernama Webcan yang dapat meningkatkan pengguna individu untuk memperbaharui website mereka tanpa harus meminta pihak ketiga melakukannya. Walaupun ada produk software lainnya di pasaran, tetapi biasanya lebih mahal dan cenderung lebih rumit daripada produknya. Pada awal usahanya, tidak ada basis pelanggan, namun dengan bantuan pinjaman YBI, Eric mampu mendapatkan sokongan dana usaha (trade endorsement) untuk produknya dan sejak itu software tersebut laris manis.
Saat tahun pertama telah dilaluinya, ia melihat usahanya berkembang tiga kali lipat dari sebelumnya. Keadaan seperti ini banyak yang diharapkan oleh semua pengusaha, namun keadaan ini justru yang membuat Eric justru pusing karena telah melihat kantornya mirip sebuah pabrik kecil, dan waktunya habis untuk mengemas produk. Ia kehilangan waktu untuk mengembangkan disain-disain software baru, justru yang membuat disain softwarenya dapat bersaing dengan produk lainnya. Keadaan ini membuatnya frustasi dan kehilangan fikus dan energi. Ia juga menghadapi keluhan dari pelanggan yang menuntut kapan mereka akan menerima kiriman.
Mentor Eric, seorang Direktur IT di perusahaan software terdepan menemuinya sekali dalam sebulan, tetapi akhir-akhir ini mentornya menyadari bahwa emailnya tidak dibalas dan pertemuan terakhir dijadwal ulangmenjelang menit-menit terakhir. Seorang sukarelawan mentor bisnis ini karena latarbelakangnya dibidang IT, oleh YBI dipasangkan dengan Eric. Mentor Eric mulai khawatir tentang kurang fokusnya Eric dan ingin membagikan beberapa nasihat mentoring.Awalnya ia mendukung Eric untuk mengambil keuntungan tetapi kini Mentornya juga merasa bertanggungjawab atas kesulitan Eric. n sebuah studi kasus yang dinukil dari materi Lokakarya Mentor Bisnis yang diikuti Majalah WK.






