Irma Susana Handayani, atau sebut saja Irma, menyadari bahwa wanita punya banyak sekali peran dalam kehidupannya. Akan tetapi, bagi Irma, ada lagi fungsi yang harus dia lakukan sebagai pribadi: pebisnis yang sukses. Mimpi itu jadi nyata. Tapi, bagaimana awal mulanya?Untung dengan Jilbab Syar’i
Bekal ilmu dan jiwa bisnisnya telah dilatih sejak lama. Ia mengaku masa kecilnya di Bandung sudah diisi ayahnya dengan “latihan-latihan” entrepreneurship, yakni berjualan di jendela rumah. Irma pun senang menjalaninya. Alasannya sangat sederhana, “Karena saya dapat uang dari hasil berjualan itu,” ungkap Irma jujur. Hobi itu berlanjut sampai SMP, SMA, kuliah, dan pasca lulus. Bahkan ia sempat membantu perusahaan ayahnya di Tasikmalaya.
Meski demikian, Irma sempat bekerja sebagai guru. Di tahun 1997, ia adalah guru kimia di bimbingan belajar Primagama, cabang Indramayu Cirebon. Pernah pula mendapat tawaran mengajar di SMUN 1 Sumedang. Setelah menikah dan melahirkan anak ke-3, Irma diminta suaminya untuk berhenti mengajar. Agustus 2002 mulai merintis bisnis. Tahun 2003, dengan dukungan suami, membuka toko busana muslim dan perlengkapannya, Kiswah Ya Muslim.
Irma tertarik berbisnis ini karena waktu itu ia melihat toko yang menyediakan busana muslimah dan perlengkapanannya di Indramayu. Memang, saat ini sudah banyak toko sejenis, tapi masih sulit mencari yang sesuai dengan tuntutan syariah, papar Irma. Target utama produk-produk Kiswah Ya Muslim adalah remaja putri dan kaum ibu menengah ke atas yang ingin tampil modis tetapi tetapi tetap syar’i. Produknya sendiri adalah mukena sutra bordir halus dan aneka jilbab. Bagaimana sistem pemasaran yang Irma terapkan? Jawabnya melalui outlet atau penjualan di toko, promosi melalui majelis taklim, mengikuti bazar atau pameran dan melalui agen lepas. Untuk rencana pengembangan, Irma berencana lebih meluaskan lagi promosi lewat media elektronik dan surat kabar. Terbetik pula di benaknya untuk memperluas toko dan mengarahkannya sebagai alat produksi produk-produknya.
Sejauh ini, Irma telah memiliki 4 orang SDM. Dia menganggap ke-4 anak buahnya sebagai mitra perusahaan, bahkan suasananya seperti “teman akrab” di beberapa sisi seperti kebiasaan shalat berjamaah dan membaca Al Quran di pengajian bersama. Dengan program-program seperti ini, kedekatan satu sama lain pun bisa diharapkan. Komunikasi pun lancar dan evaluasi dapat dilakukan dengan maksimal. Perjalanan bisnis Irma bukan tanpa halangan. Pahit getir jua ia hadapi. Berbagai pelajaran ia ambil. “Pernah suatu saat ada yang pesan kepada saya perlengkapan haji dalam jumlah yang cukup banyak. Ketika pesanannya sudah selesai dan siap, yang diambil hanya satu saja. Saya pasrah. Itu memang salah saya tidak membuat perjanjian dan uang muka. Dalam usaha, kita memang harus jelas soal perjanjian dan aturannva. Alhamdulillah, tidak lama kemudian, barang-barang yang tidak diambil laku juga dijual.”
Saying is Easy, but Doing is Much More Difficult
Diakui Irma, tidak mudah hidup seperti yang dijalaninya. Sebagai wanita yang mengelola bisnis, ada kesukaran tersendiri untuk bisa hidup seimbang, dalam arti menjalankan semua fungsi. Maka dari itu, ia berupaya untuk selalu melaksanakan tugas-tugasnya dengan sebaik mungkin. Tugas sebagai seorang hamba Allah, yang taat, yang selalu dapat beramar maruf nahi munkar. Tugas sebagai seorang anak yang harus berbakti kepada kedua orang tua, yang bisa menjadi penyejuk matanya. Tugas sebagai seorang “Khadijah”, sang istri salihah yang selalu mendukung dakwah suami. Tugas sebagai seorang ibu yang dituntut dapat jadi teladan dan mampu mendidik anak-anaknya dengan baik.
Meski demikian, Irma tahu mudahnya bicara dan sulitnya mempratikkan. Teori memang mudah tetapi pelaksanaannya diperlukan komitmen yang tinggi. “Hanya dengan shalat dan sabarlah yang menjadi penolong,” ungkap Irma. Ditanya soal obsesi yang masih belum tercapai, Irma berkata bahwa dirinya selalu berharap kepada Allah Swt. agar diberi kemampuan untuk dapat menjalankan semua amanah dalam hidupnya, termasuk dalam hal organisasi. Ya, dia juga aktif berorganisasi. Sebut saja: Wanita Persatuan Umat Islam, PUI Kec. Sindang, Penyelenggara Taman Kanak-kanak, PUI Majelis Taklim Santunan anak yatim dan dhuafa, serta tak ketinggalan Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia (JPMI). Sungguh berat, tapi Irma tetap jalani. Sekuat tenaga. Dengan ikhtiar dan berdoa pada Yang Kuasa.






