business
 
 
 
HOME        TENTANG WK       DATA TEKNIS       PEMASANGAN IKLAN       BERLANGGANAN       JURNAL      KONTAK
©2007 Majalah Wirausaha dan Keuangan. All rights reserved
Mahkota Dewa
Dari Tanaman Liar Hingga Industri Herbal

Anda pembaca majalah WK, mungkin anda  ingin bertanya, bagaimana  perjuangan dan upaya Ning Harmanto mempopulerkan Mahkota Dewa. Mungkinkah tanaman liar ini bakal menjadi bahan baku industri obat dunia yang penting?
Jika anda melihat sepak terjang Ning Harmanto kini dengan Mahkota Dewanya, anda akan yakin bahwa Mahkota Dewa akan mendunia.
Semenjak Ning mempopulerkan Mahkota Dewa, sebagai jamu dan juga obat, dengan caranya sendiri, kini berbagai kalangan mulai beralih perhatian terhadap tanaman  asli Indonesia yang habitat asalnya sebenarnya berada di tanah Papua ini, namun, entah bagaimana caranya, tanaman ini masuk ke Keraton Mangkunegara di Solo dan Keraton Yogyakarta.
"Di kedua tempat itu Mahkota Dewa dikenal sebagai tanaman obat. Dulu memang hanya kedua keraton itu yang mengenal khasiat Mahkota Dewa untuk keperluan pengobatan. Lambat laun, dari mulut ke mulut, berita mengenai khasiat pohon ini menyebar ke luar keraton," ujar Ning yang memiliki hobby menulis dan bercocok tanam ini. 
Pohon ini, menurut Ning, sebetulnya pantas dianggap memiliki 'kesaktian'. Soalnya, berbagai jenis penyakit, dari yang ringan sampai yang berat, bisa disembuhkan dengan buah dari pohon ini. Bahkan, dalam cerita wayang purwa, pohon ini konon begitu dikeramatkan. Pohon ini sangat dihormati. Siapa saja yang berkeinginan untuk memetik buahnya harus menyembahnya terlebih dulu. Para prajurit yang hendak pergi ke medan laga pun harus memakan buahnya agar sehat, kuat, dan selamat.
Sebagian orang meyakini bahwa pohon mahkota dewa memancarkan 'aura' yang sangat bagus untuk kesehatan. Ada juga yang percaya bahwa siapa pun yang menanam pohon ini sampai berbuah akan dilimpahi rezeki yang berlimpah,
Kini dengan pemberitaan di media cetak dan elektronik yang terus menerus, masyarakat mulai berlomba-lomba menanam. Di daerah Purworejo, Jawa Tengah hampir semua penduduk punya tanaman ini. Bahkan masyarakat yang tadinya menanam cengkeh atau tanaman lain kini diganti dengan Mahkota Dewa.
"Saya amat bersyukur dengan kenyataan ini walau masih harus terus menerus disosialisasikan. Saya terus berjuang untuk memperkenalkan dan menginformasikan manfaat tanaman Mahkota Dewa diseluruh pelosok Tanah Air dan bahkan ke segenap penjuru dunia. Saya terus ingin berkarya melalui tulisan, talk show, ataupun seminar-seminar di berbagai daerah,' ujarnya.
Masyarakat dunia pun, menurut Ning  mulai tertarik mencoba ramuan tradisional Indonesia untuk mengobati penyakitnya. "Saya amat terharu ketika banyak orang asing datang ke klinik Mahkota Dewa untuk konsultasi dan meminta ramuan yang saya olah secara sederhana .Karena kesembuhan seseorang dari Singapore yang menggunakan Mahkotadewa maka Ramuan Mahkotadewa  kini juga sudah bisa diperoleh di Singapore dan Malaysia," ujarnya.   
            Sayangnya, masih banyak juga orang Indonesia sendiri yang tidak tahu kegunaan pohon ini dan bahkan meragukannya.  Jangankan orang awam, banyak ahli pengobatan tradisional pun masih ada yang meragukannya. Alasannya, antara lain, penelitian ilmiah secara klinis mengenai kegunaan pohon ini belum menghasilkan sebuah kesimpulan yang memuaskan. Akibatnya, tidaklah mengejutkan jika di beberapa daerah pohonnya banyak ditebangi karena dianggap hanya sebagai sarang ular. Buahnya pun dibuang begitu saja karena rasanya tidak enak. Hal-hal seperti itu membuat ketersediaan Mahkota Dewa, yang memang sulit didapat, semakin sulit dipenuhi. Padahal, dari waktu ke waktu, kebutuhan pengobatan alternatif terhadap pohon ini semakin banyak. 
       Kini, Ning sedang menjalin kerjasama produksi dengan sebuah perusahaan farmasi dari Inggris dan Jerman. Jika langkah ini terwujud, Mahkota Dewa benar-benar akan mendunia. Dan jangan heran jika kelak kita hanya terbengong-bengong karena kita telah menganggapnya sebagai tanaman liar yang tidak berguna. 

How to Choose Health Insurance

Most of the time it's a lady shopping for the Health Insurance, in families it's Mom, in companies it's payroll/book-keeper (also sometimes Mom in small companies). The guys just say 'I never use it', and leave the room.

The primary concerns are usually Office Visits, Rx (Prescription Drugs) and Hospital stays. Since ladies are usually looking more closely, we often find Maternity in the list of concerns, when the guys stay in the room, sometimes we are asked about Chiropractic. This is not ALWAYS the case, just the usual mix of concerns. You should definitely read the summary of benefits BEFORE using my comparison method. Both plans should be acceptable to you, you just want to know which makes sense financially.

Having been in thousands of discussions about Health Insurance I have found a simple way to compare High Deductible plans that cost less monthly, to Low Deductible Plans that cost a lot of money monthly. It is basically this:

Add up the annual cost of the High Deductible plan, say $100 per month times 12 = $1200 per year.
Add up the annual cost of the Low Deductible plan, say $300 per month times 12 = $3600 per year.
Subtract the smaller: $3600 minus $1200 = $2400, that is the yearly savings if you choose a High Deductible Plan.

Now, you don't use the deductible to compare, but a feature of PPOs called "Maximum out of Pocket" or "Stop Loss". That is your worst case scenario, everyone is sick, or everyone is injured and you all meet your deductible and co insurance up to that number, say $10,000 for a family.

At that rate, saving $2400 per year, you would have to go about 4 years to save the money you would need in a worst case scenario.

In my own case, family of 5, Los Angeles rates, a Low Deductible Plan is over $1000 per month, a high deductible plan is less than $300, we save over $8000 per year, and have been saving for over 12 years (we have an HSA, with a $3400 deductible, $10,000 max out for the family).

Many newer High Deductible plans like TONIK, from Anthem Blue Cross ,include Preventative, Dental and Vision benefits, which are more likely to be used than major medical. We all need a teeth cleaning, we don't all need a transplant, so those plans make sense to many people, and are extremely popular.

My comparison system still works, you simply add the cost of buying separate Dental and Vision to the cost of the plan without them, that really makes the newer plan including those benefits desirable, if you would use those extra benefits.

It's a simple rule really, and can be applied to other benefits, like Glasses on a Vision plan:

Vision coverage is $3 per person per month, with Lenses and Glasses covered it's $10.
You have 10 in your group, so that is $100 per month, $1200 per year.
Only two wear glasses, everyone else just needs the exam.
You only need exams for most, so that's $3 per month times 10, $30 = $360 per year.
You simply buy new glasses every two years for the two who wear them, and save $840 per year.

Once again, the focus here is on financial aspects of insurance, not the benefits, which must be weighed separately, and could be called "Getting a good deal". This method can tell you if you are "Getting a good deal" financially, comparing benefits is another story. Which I intend to write soon!
business
business
business
 
business
 
Dapatkan E-book Gratis dan Newsletter tentang Peluang Bisnis, Manajemen Usaha, Business Sharing dan Bisnis Online
Subscribe to thedexton
Powered by finance.groups.yahoo.com
Ads by Adex

Kursus Internet Marketing
Belajar tentang Pembuatan Website/Blog, Affiliate, Adsense, SEO, dll
www.imc.adexindo.com

Ingin Punya Website Murah?
Rp. 875.000 nett  termasuk registrasi, desain, hosting, upload. Online dalam 5 hari kerja
www.adexindo.com

Raih Penghasilan Ribuan US Dollar!!
Hanya dengan Bisnis Online Terpercaya dan Diakui Berskala Internasional
www.top.adexindo.com