Poposal Tak Jadi Soal
Oleh Fajar S Pramono
Suasana Ramdhan, frekuensi diskusi malam
di balai kampung kami sedikit mengendor.
Wajar, dan menurut saya justru bagus. Kok?
Iya dong. Karena, kendoran frekuensi itu berarti
pilihan prioritas bagi saya, Uda Mail dan Cak Rifan
untuk bisa lebih fokus beribadah malam. Sementara,
kemafhuman alias pemakluman yang ditunjukkan
oleh Bang Sinaga dan Bli Wayan, merupakan wujud toleransi beragama yang sangat indah. Ya nggak?
Namun, seminggu sejak awal Ramadhan, kerinduan akan kehangatan diskusi, tertimpa aroma wedang jahe Cak Rifan serta belaian angin malam yang mencipta berisik daun akasia di samping pendopo, membuncah ruah. Dan sesuai kesepakatan tadi sore lewat, jam sembilan malam ini kami berkumpul lagi.
"Wah, kangen berat aku, dengar analisa politik Bli Wayan!" gelegar suara Bang Sinaga menyambut Bli Wayan yang baru datang.
"Ah, Abang bisa saja. Yang pasti, Liga Inggris terasa hambar tanpa ulasan kritis dari Bang Sinaga!" balas Bli Wayan sembari menetapkan posisi duduk yang paling nyaman.
Kami semua tertawa. "Dan jangan lupa, rasanya otak jadi bebal tanpa kuliah umum dari Mas Ndoet! Hahaha…" giliran Uda Mail membanyol.
Saya tersenyum, tak berminat membalas banyolan Uda. Bahkan, saya langsung menantang.
"Jadi, ada yang mau ditanyakan malam ini?" kata saya sembari berdiri, berlagak seperti dosen.
"Ada, Mas!" sambar Bang Sinaga, yang -jujur saja- membuat saya kaget setengah mati. Maksud hati sekedar gaya, eh, ternyata beneran ada….
"Begini, Mas Ndoet," kata Bang Sinaga sembari membuka toples kue kering yang dibawakan istri Uda Mail. "Ada saudara di Medan sana, yang ingin mengajukan kredit di bank. Sesudah tanya sana tanya sini, katanya, dia harus buat proposal kredit. Nah, ini masalahnya. Meskipun saudaraku itu pengusaha yang cukup maju di mata kami, dia tetap saja lulusan SMP yang merasa 'buta' ketika harus bikin proposal. Jangankan proposal, ditanya punya rencana tertulis atau tidak, dia jawab tak punya. Apalagi kalau ditanya tentang laporan keuangan. 'Semua tercatat di otak,' katanya."
"Jadi?" potong saya.
"Ya itu, Mas. Apa iya sih, kita harus bikin proposal ketika mengajukan kredit? Bikin proposal, untuk pengusaha 'konvensional' kan bukan hal yang gampang, Mas?" akhirnya muncul pertanyaan Bang Sinaga.
"Super…," jawab saya sambil menjentikkan jari, menirukan gaya Pak Mario Teguh yang motivator kondang itu. "Kayaknya, saudara Abang itu salah bertanya deh," lanjut saya dengan senyum terkulum.
"Maksud Mas Ndoet?" justru Uda Mail yang penasaran.
"Kalau dari dulu tanyanya ke saya, jawabnya : tidak harus!" kata saya tegas.
"Kok bisa?!" ganti Bli Wayan yang penasaran.
Saya tersenyum lagi, "Salah satu -maaf ya- kelemahan pengusaha UKM kita, apalagi yang tumbuh secara otodidak dan lebih banyak mengandalkan insting bisnis, adalah administrasi. Ya laporan penjualan lah, ya pencatatan stok, penghitungan riil laba rugi, semuanya. Apalagi planning tertulis. Benar kata Bang Sinaga, semuanya memang terekam di otak. Namun, kalau harus menuliskannya? Entar dulu, lah yauw…."
"Lalu?" sela Bang Sinaga tak sabar.
"So, sekali lagi, tak ada kewajiban untuk membuat proposal lengkap!" kata saya lebih tegas. "Yang diwajibkan adalah, keterbukaan. Sampaikan kepada petugas bank kebutuhan kredit Anda, rencana Anda, kendala Anda, kondisi usaha Anda, proyeksi Anda, kemampuan Anda, secara jujur terbuka, apa adanya, dengan kata-kata bersahaja. Cukup itu dulu. Huenak kan?"
"Lho, bukannya semua itu harus diisikan dalam berbagai formulir, ditandatangani, dan sebagainya. Apa cukup hanya diceritakan?" Uda Mail bertanya lebih lanjut.
"Kalau Uda Mail memang bisa, lebih bagus. Tapi kalau tidak, serahkan pada petugas bank. Hasil penyampaian yang Uda ceritakan itu tadi akan 'ditransfer' oleh petugas bank dalam bentuk formulir permohonan, memorandum analisa usaha sekaligus proyeksi, hingga sampai kepada layak tidaknya Uda mendapat kredit," jelas saya.
"Proposal sendiri, isinya tak beda dengan yang saya katakan tadi. Identitas usaha, kondisi usaha kualitatif dan kuantitatif, rencana yang akan dilakukan, optimisme terhadap proyeksi ke depan, kendala dana alias kebutuhan kredit, hingga kemampuan mengembalikan hutang bank. Hanya beda tertulis dan tidak. Tapi, tertulis sebagus apapun kalau itu bohong dan hanya seperti orang jual kecap, ya mohon maaf. Justru bank akan menilai karakter Uda sebagai orang yang tidak jujur dan mencoba memanipulasi data. Nah lo.. berat kan, konsekuensinya?"
"Apa tidak mempengaruhi penilaian atas bonafiditas usaha?" pertanyaan cerdas terlontar dari Bli Wayan.
"Good question!" kata saya sok Inggris. "Memang benar, bonafiditas seseorang, salah satunya bisa dilihat dari persiapannya. Datang membawa proposal, lengkap dengan perijinan usaha, akta perusahaan, copy identitas, bukti kepemilikan calon agunan, laporan keuangan dan sebagainya tentu mencitrakan bonafiditas tersendiri."
Sedikit terbatuk, saya melanjutkan, "Tapi ya itu tadi, jika semua itu tidak sesuai dengan kenyataan, jangankan bonafiditas; kualitas diri si pengusaha saja tidak akan tampak. Celakanya lagi, malah dianggap mencoba membohongi bank. Kesimpulannya, tak perlu takut kehilangan bonafiditas kalau usaha dan karakter kita memang bagus!"
"Jadi, tetap saja kembali kepada keterbukaan dan kejujuran?" tanya Bang Sinaga minta ketegasan.
"Yup!" kata saya. "Tak ada yang lebih baik dari apapun dalam hubungan kredit pengusaha dan bank, selain dua hal tersebut. Keduanya akan menuntun kepada kebaikan bersama, karena semuanya berawal dari itikad baik. Betul?"
Seperti biasa, sahabat-sahabat saya manggut-manggut. Tak ada komentar, yang biasanya berarti mereka cukup terpuaskan dengan kuliah saya. Semoga saja begitu.
*) Fajar S Pramono, kolumnis yang juga manajer pemasaran di sebuah bank pemerintah, penulis buku "Rahasia Sukses Ngutang di Bank".