business
 
 
 
HOME        TENTANG WK       DATA TEKNIS       PEMASANGAN IKLAN       BERLANGGANAN       JURNAL      KONTAK
©2007 Majalah Wirausaha dan Keuangan. All rights reserved
Poposal Tak Jadi Soal
Oleh Fajar S Pramono


Suasana Ramdhan, frekuensi diskusi malam
di balai kampung kami sedikit mengendor.
Wajar, dan menurut saya justru bagus. Kok?
Iya dong. Karena, kendoran frekuensi itu berarti
pilihan prioritas bagi saya, Uda Mail dan Cak Rifan
untuk bisa lebih fokus beribadah malam. Sementara,
kemafhuman alias pemakluman yang ditunjukkan
oleh Bang Sinaga dan Bli Wayan, merupakan wujud toleransi beragama yang sangat indah. Ya nggak?
Namun, seminggu sejak awal Ramadhan, kerinduan akan kehangatan diskusi, tertimpa aroma wedang jahe Cak Rifan serta belaian angin malam yang mencipta berisik daun akasia di samping pendopo, membuncah ruah. Dan sesuai kesepakatan tadi sore lewat, jam sembilan malam ini kami berkumpul lagi.
"Wah, kangen berat aku, dengar analisa politik Bli Wayan!" gelegar suara Bang Sinaga menyambut Bli Wayan yang baru datang.
"Ah, Abang bisa saja. Yang pasti, Liga Inggris terasa hambar tanpa ulasan kritis dari Bang Sinaga!" balas Bli Wayan sembari menetapkan posisi duduk yang paling nyaman.
Kami semua tertawa. "Dan jangan lupa, rasanya otak jadi bebal tanpa kuliah umum dari Mas Ndoet! Hahaha…" giliran Uda Mail membanyol.
Saya tersenyum, tak berminat membalas banyolan Uda. Bahkan, saya langsung menantang.
"Jadi, ada yang mau ditanyakan malam ini?" kata saya sembari berdiri, berlagak seperti dosen.
"Ada, Mas!" sambar Bang Sinaga, yang -jujur saja- membuat saya kaget setengah mati. Maksud hati sekedar gaya, eh, ternyata beneran ada….
"Begini, Mas Ndoet," kata Bang Sinaga sembari membuka toples kue kering yang dibawakan istri Uda Mail. "Ada saudara di Medan sana, yang ingin mengajukan kredit di bank. Sesudah tanya sana tanya sini, katanya, dia harus buat proposal kredit. Nah, ini masalahnya. Meskipun saudaraku itu pengusaha yang cukup maju di mata kami, dia tetap saja lulusan SMP yang merasa 'buta' ketika harus bikin proposal. Jangankan proposal, ditanya punya rencana tertulis atau tidak, dia jawab tak punya. Apalagi kalau ditanya tentang laporan keuangan. 'Semua tercatat di otak,' katanya."
"Jadi?" potong saya.
"Ya itu, Mas. Apa iya sih, kita harus bikin proposal ketika mengajukan kredit? Bikin proposal, untuk pengusaha 'konvensional' kan bukan hal yang gampang, Mas?" akhirnya muncul pertanyaan Bang Sinaga.
"Super…," jawab saya sambil menjentikkan jari, menirukan gaya Pak Mario Teguh yang motivator kondang itu. "Kayaknya, saudara Abang itu salah bertanya deh," lanjut saya dengan senyum terkulum.
"Maksud Mas Ndoet?" justru Uda Mail yang penasaran.
"Kalau dari dulu tanyanya ke saya, jawabnya : tidak harus!" kata saya tegas.
"Kok bisa?!" ganti Bli Wayan yang penasaran.
Saya tersenyum lagi, "Salah satu -maaf ya- kelemahan pengusaha UKM kita, apalagi yang tumbuh secara otodidak dan lebih banyak mengandalkan insting bisnis, adalah administrasi. Ya laporan penjualan lah, ya pencatatan stok, penghitungan riil laba rugi, semuanya. Apalagi planning tertulis. Benar kata Bang Sinaga, semuanya memang terekam di otak. Namun, kalau harus menuliskannya? Entar dulu, lah yauw…."
"Lalu?" sela Bang Sinaga tak sabar.
"So, sekali lagi, tak ada kewajiban untuk membuat proposal lengkap!" kata saya lebih tegas. "Yang diwajibkan adalah, keterbukaan. Sampaikan kepada petugas bank kebutuhan kredit Anda, rencana Anda, kendala Anda, kondisi usaha Anda, proyeksi Anda, kemampuan Anda, secara jujur terbuka, apa adanya, dengan kata-kata bersahaja. Cukup itu dulu. Huenak kan?"
"Lho, bukannya semua itu harus diisikan dalam berbagai formulir, ditandatangani, dan sebagainya. Apa cukup hanya diceritakan?" Uda Mail bertanya lebih lanjut.
"Kalau Uda Mail memang bisa, lebih bagus. Tapi kalau tidak, serahkan pada petugas bank. Hasil penyampaian yang Uda ceritakan itu tadi akan 'ditransfer' oleh petugas bank dalam bentuk formulir permohonan, memorandum analisa usaha sekaligus proyeksi, hingga sampai kepada layak tidaknya Uda mendapat kredit," jelas saya.
"Proposal sendiri, isinya tak beda dengan yang saya katakan tadi. Identitas usaha, kondisi usaha kualitatif dan kuantitatif, rencana yang akan dilakukan, optimisme terhadap proyeksi ke depan, kendala dana alias kebutuhan kredit, hingga kemampuan mengembalikan hutang bank. Hanya beda tertulis dan tidak. Tapi, tertulis sebagus apapun kalau itu bohong dan hanya seperti orang jual kecap, ya mohon maaf. Justru bank akan menilai karakter Uda sebagai orang yang tidak jujur dan mencoba memanipulasi data. Nah lo.. berat kan, konsekuensinya?"
"Apa tidak mempengaruhi penilaian atas bonafiditas usaha?" pertanyaan cerdas terlontar dari Bli Wayan.
"Good question!" kata saya sok Inggris. "Memang benar, bonafiditas seseorang, salah satunya bisa dilihat dari persiapannya. Datang membawa proposal, lengkap dengan perijinan usaha, akta perusahaan, copy identitas, bukti kepemilikan calon agunan, laporan keuangan dan sebagainya tentu mencitrakan bonafiditas tersendiri."
Sedikit terbatuk, saya melanjutkan, "Tapi ya itu tadi, jika semua itu tidak sesuai dengan kenyataan, jangankan bonafiditas; kualitas diri si pengusaha saja tidak akan tampak. Celakanya lagi, malah dianggap mencoba membohongi bank. Kesimpulannya, tak perlu takut kehilangan bonafiditas kalau usaha dan karakter kita memang bagus!"
"Jadi, tetap saja kembali kepada keterbukaan dan kejujuran?" tanya Bang Sinaga minta ketegasan.
"Yup!" kata saya. "Tak ada yang lebih baik dari apapun dalam hubungan kredit pengusaha dan bank, selain dua hal tersebut. Keduanya akan menuntun kepada kebaikan bersama, karena semuanya berawal dari itikad baik. Betul?"
Seperti biasa, sahabat-sahabat saya manggut-manggut. Tak ada komentar, yang biasanya berarti mereka cukup terpuaskan dengan kuliah saya. Semoga saja begitu.

*) Fajar S Pramono, kolumnis yang juga manajer pemasaran di sebuah bank pemerintah, penulis buku "Rahasia Sukses Ngutang di Bank".

business
How to Choose Health Insurance

Most of the time it's a lady shopping for the Health Insurance, in families it's Mom, in companies it's payroll/book-keeper (also sometimes Mom in small companies). The guys just say 'I never use it', and leave the room.

The primary concerns are usually Office Visits, Rx (Prescription Drugs) and Hospital stays. Since ladies are usually looking more closely, we often find Maternity in the list of concerns, when the guys stay in the room, sometimes we are asked about Chiropractic. This is not ALWAYS the case, just the usual mix of concerns. You should definitely read the summary of benefits BEFORE using my comparison method. Both plans should be acceptable to you, you just want to know which makes sense financially.

Having been in thousands of discussions about Health Insurance I have found a simple way to compare High Deductible plans that cost less monthly, to Low Deductible Plans that cost a lot of money monthly. It is basically this:

Add up the annual cost of the High Deductible plan, say $100 per month times 12 = $1200 per year.
Add up the annual cost of the Low Deductible plan, say $300 per month times 12 = $3600 per year.
Subtract the smaller: $3600 minus $1200 = $2400, that is the yearly savings if you choose a High Deductible Plan.

Now, you don't use the deductible to compare, but a feature of PPOs called "Maximum out of Pocket" or "Stop Loss". That is your worst case scenario, everyone is sick, or everyone is injured and you all meet your deductible and co insurance up to that number, say $10,000 for a family.

At that rate, saving $2400 per year, you would have to go about 4 years to save the money you would need in a worst case scenario.

In my own case, family of 5, Los Angeles rates, a Low Deductible Plan is over $1000 per month, a high deductible plan is less than $300, we save over $8000 per year, and have been saving for over 12 years (we have an HSA, with a $3400 deductible, $10,000 max out for the family).

Many newer High Deductible plans like TONIK, from Anthem Blue Cross ,include Preventative, Dental and Vision benefits, which are more likely to be used than major medical. We all need a teeth cleaning, we don't all need a transplant, so those plans make sense to many people, and are extremely popular.

My comparison system still works, you simply add the cost of buying separate Dental and Vision to the cost of the plan without them, that really makes the newer plan including those benefits desirable, if you would use those extra benefits.

It's a simple rule really, and can be applied to other benefits, like Glasses on a Vision plan:

Vision coverage is $3 per person per month, with Lenses and Glasses covered it's $10.
You have 10 in your group, so that is $100 per month, $1200 per year.
Only two wear glasses, everyone else just needs the exam.
You only need exams for most, so that's $3 per month times 10, $30 = $360 per year.
You simply buy new glasses every two years for the two who wear them, and save $840 per year.

Once again, the focus here is on financial aspects of insurance, not the benefits, which must be weighed separately, and could be called "Getting a good deal". This method can tell you if you are "Getting a good deal" financially, comparing benefits is another story. Which I intend to write soon!
business
 
 
Dapatkan E-book Gratis dan Newsletter tentang Peluang Bisnis, Manajemen Usaha, Business Sharing dan Bisnis Online
Subscribe to thedexton
Powered by finance.groups.yahoo.com
Ads by Adex

Kursus Internet Marketing
Teknik pemasaran dan pengembangan bisnis melalui internet
www.imc.adexindo.com

Ingin Punya Website Murah?
Belajar tentang Pembuatan Website/Blog, Affiliate, Adsense, SEO, dll
www.adexindo.com

Peluang Bisnis Internet
Potensi tersembunyi dunia internet, mendulang profit tanpa meninggalkan rumah.
www.top.adexindo.com

Grafiza Publishing & Printing
Cetak brosur, leaflet, poster, dll. Harga cetak bisa lebih murah daripada fotocopy!!
www.adexindo.com

Media Ace Communication
Event Organizer for Launching, Workshop, Seminar, Music Entertainment, Etc.
www.adexindo.com
peluang business
business