insurance
 
 
 
HOME        TENTANG WK       DATA TEKNIS       PEMASANGAN IKLAN       BERLANGGANAN       JURNAL      KONTAK
©2007 Majalah Wirausaha dan Keuangan. All rights reserved
Bazz Burger
Keresahaan Berujung Keseriusan

Nasib manusia memang tak bisa diukur panjangnya, demikian kata pepatah.  Demikian pula nasib pria berusia 36 tahun bernama Basri Adhi --atau akrab dipanggil Basri-dalam mengembangkan outlet-outlet Burgernya yang dinamai BAZZ Burger.

Bermula dari keresahannya untuk segera memulai usaha awal tahun 2006 lalu, Basri yang alumni IPB,  bertemu dengan seorang pemilik waralaba burger yang cukup kondang di Indonesia.
Atas saran dan "hasutan"nya, Basri tergerak untuk mengambil franchise usaha Burger tersebut, itu tepatnya sekitar Juni 2006.  Dengan modal nekad, Basri memutuskan untuk meninggalkan posisinya sebagai General Manager di sebuah suratkabar nasional terbesar di Indonesia untuk mulai menjadi seseorang dengan "tangan di atas".
       Awal-awal menjalankan usaha franchise burger ini memang bukan awal yang mudah.  Minimnya pengetahuan serta tak adanya bimbingan dari franchisor membuat Basri hampir menyerah di tengah jalan.  Banyak kesalahan yang dibuat antara lain melihat lokasi hanya semata dari "ramai"-nya saja, harga sewa lokasi terlalu mahal, menu yang dijual terlalu banyak (sehingga tidak focus, membingungkan konsumen yang harus memilih-milih, serta memberatkan di sisi "inventory" bahan baku),  pemilihan tenaga kerja atau karyawan yang tak tepat, serta kesalahan utamanya menyerahkan bisnis yang baru dimulai pada orang lain yang juga tak kompeten.
       Masa-masa sulit mendapati omzet dibawah target, setiap bulan tekor hingga karyawan yang tak jujur adalah bagian yang menurut Basri pasti dilewati.  Itulah masa-masa ujian yang kritis yang mengawali masa-masa usahanya.
       Atas berbagai pertimbangan, Basri bukannya memutuskan untuk berhenti namun terjun  100% menangani bisnisnya "day to day" dan membuat brand sendiri dengan nama BAZZ Burger.  Setiap pagi dan sore dengan sepeda motor bebek-nya Basri berkeliling dari satu konter ke konter yang lain, berdialog dengan karyawan, mengirim bahan baku yang kurang serta mengontrol laporan keuangan dari tiap konter.
       Berawal dari satu konter yang ditempatkan berada di depan salah satu kompleks pertokoan yang cukup ramai di Bogor, lambat laun dalam kurun satu tahun, jumlah konter BAZZ Burger telah menjadi tujuh. 

Strategi pemasaran
       BAZZ Burger barangkali salah satu contoh usaha yang benar-benar menerapkan teori pemasaran.  Semua hal dipertimbangkan mulai dari Produk yang dijual, Harga, Promosi sampai Lokasi . 
       Produk yang dijual.  Tadinya, Basri menjual semua pilihan burger di konternya.  Namun, dari hasil pengamatannya, ini justru membingungkan konsumen yang sebagian besar anak-anak.  Lalu mulailah menu yang dijual di-pareto.  Kini, BAZZ Burger hanya menjual Beef Burger, Hotdog, kentang goreng, sosis goreng , dan softdrink dalam kemasan postmix.  Menu-menu kejutan, seperti misalnya lumpia seafood dipakai sebagai gebrakan agar market tidak bosan.  Dengan menu yang fokus, juga meringankan dalam manajemen inventory bahan baku.

Harga.  Harga jual makanan di konter BAZZ burger cukup terjangkau oleh kantong anak-anak sekolah.  Kisarannya antara 1500 - 4000 rupiah.  Walaupun marginnya tipis, tetapi karena volume penjualannya bagus, maka total margin mau tak mau ikut terdongkrak.
       Promosi.  Setiap pembukaan konter baru, Basri selalu menyebarkan minimal 1000 lembar brosur di lingkungan sekolah.  Juga secara periodic diciptakan paket-paket makanan dengan harga yang kompetitif.  Berdasar pengalamannya anak-anak sekolah menyukai system paket, karena harga makanan menjadi makin terjangkau.  BAZZ Burger juga rajin mengikuti berbagai event dan bazaar baik itu di Bogor maupun di Jakarta.  Ini membuat nama BAZZ menjadi tak asing di kalangan event organizer (terutama di kota Bogor).
       Lokasi.  Pada awalnya,  dari empat konter hanya satu yang berada di sekolah.  Namun, dari hasil pengamatan kini komposisinya sudah terbalik, semua konter berada di sekolah dan hanya satu yang berada di sebuah pusat perbelanjaan.  Pertimbangan memilih sekolah karena market-nya "captive" atau sudah tersedia, dan anak-anak sekolah pasti jajan.  Kini, walaupun harga jual burger (dan menu lainnya) berada di bawah harga jual normal di luaran, tapi secara total omzet dan keuntungan bisa berkali lipat.  Jadi bisa dibilang, di kota Bogor, Basri kini menjadi pemain spesialis berjualan burger di sekolah.  Untuk sekolah, dengan adanya konter BAZZ Burger juga diuntungkan, selain uang sewa yang dibayarkan juga sekolah mendapat jaminan murid-murid mendapat makanan yang sehat, bergizi dan diolah serta disajikan secara higienis.
       Kini hampir dikata, Basri tinggal memungut hasil jerih payahnya, walau selalu dia bilang bahwa perjuangan masih panjang.  Dengan rata-rata omzet total antara Rp 1 juta - Rp 1,5 juta per hari, boleh dibilang BAZZ sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, menggantikan penghasilan yang hilang ketika dia memutuskan berhenti kerja dahulu. 
Dan yang terpenting, usaha ini juga sudah ikut menghidupi 8 karyawannya.
Cita-citanya mengembangkan BAZZ burger menjadi 10 konter adalah salah satu yang ingin segera dicapainya akhir tahun ini.  Ketika ditanya cita-cita lain yang ingin dicapai dalam waktu dekat? "Menunaikan Ibadah Haji bersama istri dan Ibunda tercinta", ujarnya dengan mantap.
Anda berminat hubungi Basri Adhi telepon 08888 166 331

How to Choose Health Insurance

Most of the time it's a lady shopping for the Health Insurance, in families it's Mom, in companies it's payroll/book-keeper (also sometimes Mom in small companies). The guys just say 'I never use it', and leave the room.

The primary concerns are usually Office Visits, Rx (Prescription Drugs) and Hospital stays. Since ladies are usually looking more closely, we often find Maternity in the list of concerns, when the guys stay in the room, sometimes we are asked about Chiropractic. This is not ALWAYS the case, just the usual mix of concerns. You should definitely read the summary of benefits BEFORE using my comparison method. Both plans should be acceptable to you, you just want to know which makes sense financially.

Having been in thousands of discussions about Health Insurance I have found a simple way to compare High Deductible plans that cost less monthly, to Low Deductible Plans that cost a lot of money monthly. It is basically this:

Add up the annual cost of the High Deductible plan, say $100 per month times 12 = $1200 per year.
Add up the annual cost of the Low Deductible plan, say $300 per month times 12 = $3600 per year.
Subtract the smaller: $3600 minus $1200 = $2400, that is the yearly savings if you choose a High Deductible Plan.

Now, you don't use the deductible to compare, but a feature of PPOs called "Maximum out of Pocket" or "Stop Loss". That is your worst case scenario, everyone is sick, or everyone is injured and you all meet your deductible and co insurance up to that number, say $10,000 for a family.

At that rate, saving $2400 per year, you would have to go about 4 years to save the money you would need in a worst case scenario.

In my own case, family of 5, Los Angeles rates, a Low Deductible Plan is over $1000 per month, a high deductible plan is less than $300, we save over $8000 per year, and have been saving for over 12 years (we have an HSA, with a $3400 deductible, $10,000 max out for the family).

Many newer High Deductible plans like TONIK, from Anthem Blue Cross ,include Preventative, Dental and Vision benefits, which are more likely to be used than major medical. We all need a teeth cleaning, we don't all need a transplant, so those plans make sense to many people, and are extremely popular.

My comparison system still works, you simply add the cost of buying separate Dental and Vision to the cost of the plan without them, that really makes the newer plan including those benefits desirable, if you would use those extra benefits.

It's a simple rule really, and can be applied to other benefits, like Glasses on a Vision plan:

Vision coverage is $3 per person per month, with Lenses and Glasses covered it's $10.
You have 10 in your group, so that is $100 per month, $1200 per year.
Only two wear glasses, everyone else just needs the exam.
You only need exams for most, so that's $3 per month times 10, $30 = $360 per year.
You simply buy new glasses every two years for the two who wear them, and save $840 per year.

Once again, the focus here is on financial aspects of insurance, not the benefits, which must be weighed separately, and could be called "Getting a good deal". This method can tell you if you are "Getting a good deal" financially, comparing benefits is another story. Which I intend to write soon!
business
 
 
Dapatkan E-book Gratis dan Newsletter tentang Peluang Bisnis, Manajemen Usaha, Business Sharing dan Bisnis Online
Subscribe to thedexton
Powered by finance.groups.yahoo.com
Ads by Adex

Kursus Internet Marketing
Teknik pemasaran dan pengembangan bisnis melalui internet
www.imc.adexindo.com

Ingin Punya Website Murah?
Belajar tentang Pembuatan Website/Blog, Affiliate, Adsense, SEO, dll
www.adexindo.com

Peluang Bisnis Internet
Potensi tersembunyi dunia internet, mendulang profit tanpa meninggalkan rumah.
www.top.adexindo.com

Grafiza Publishing & Printing
Cetak brosur, leaflet, poster, dll. Harga cetak bisa lebih murah daripada fotocopy!!
www.adexindo.com

Media Ace Communication
Event Organizer for Launching, Workshop, Seminar, Music Entertainment, Etc.
www.adexindo.com
peluang business
business