Bazz Burger
Keresahaan Berujung Keseriusan
Nasib manusia memang tak bisa diukur panjangnya, demikian kata pepatah. Demikian pula nasib pria berusia 36 tahun bernama Basri Adhi --atau akrab dipanggil Basri-dalam mengembangkan outlet-outlet Burgernya yang dinamai BAZZ Burger.
Bermula dari keresahannya untuk segera memulai usaha awal tahun 2006 lalu, Basri yang alumni IPB, bertemu dengan seorang pemilik waralaba burger yang cukup kondang di Indonesia.
Atas saran dan "hasutan"nya, Basri tergerak untuk mengambil franchise usaha Burger tersebut, itu tepatnya sekitar Juni 2006. Dengan modal nekad, Basri memutuskan untuk meninggalkan posisinya sebagai General Manager di sebuah suratkabar nasional terbesar di Indonesia untuk mulai menjadi seseorang dengan "tangan di atas".
Awal-awal menjalankan usaha franchise burger ini memang bukan awal yang mudah. Minimnya pengetahuan serta tak adanya bimbingan dari franchisor membuat Basri hampir menyerah di tengah jalan. Banyak kesalahan yang dibuat antara lain melihat lokasi hanya semata dari "ramai"-nya saja, harga sewa lokasi terlalu mahal, menu yang dijual terlalu banyak (sehingga tidak focus, membingungkan konsumen yang harus memilih-milih, serta memberatkan di sisi "inventory" bahan baku), pemilihan tenaga kerja atau karyawan yang tak tepat, serta kesalahan utamanya menyerahkan bisnis yang baru dimulai pada orang lain yang juga tak kompeten.
Masa-masa sulit mendapati omzet dibawah target, setiap bulan tekor hingga karyawan yang tak jujur adalah bagian yang menurut Basri pasti dilewati. Itulah masa-masa ujian yang kritis yang mengawali masa-masa usahanya.
Atas berbagai pertimbangan, Basri bukannya memutuskan untuk berhenti namun terjun 100% menangani bisnisnya "day to day" dan membuat brand sendiri dengan nama BAZZ Burger. Setiap pagi dan sore dengan sepeda motor bebek-nya Basri berkeliling dari satu konter ke konter yang lain, berdialog dengan karyawan, mengirim bahan baku yang kurang serta mengontrol laporan keuangan dari tiap konter.
Berawal dari satu konter yang ditempatkan berada di depan salah satu kompleks pertokoan yang cukup ramai di Bogor, lambat laun dalam kurun satu tahun, jumlah konter BAZZ Burger telah menjadi tujuh.
Strategi pemasaran
BAZZ Burger barangkali salah satu contoh usaha yang benar-benar menerapkan teori pemasaran. Semua hal dipertimbangkan mulai dari Produk yang dijual, Harga, Promosi sampai Lokasi .
Produk yang dijual. Tadinya, Basri menjual semua pilihan burger di konternya. Namun, dari hasil pengamatannya, ini justru membingungkan konsumen yang sebagian besar anak-anak. Lalu mulailah menu yang dijual di-pareto. Kini, BAZZ Burger hanya menjual Beef Burger, Hotdog, kentang goreng, sosis goreng , dan softdrink dalam kemasan postmix. Menu-menu kejutan, seperti misalnya lumpia seafood dipakai sebagai gebrakan agar market tidak bosan. Dengan menu yang fokus, juga meringankan dalam manajemen inventory bahan baku.
Harga. Harga jual makanan di konter BAZZ burger cukup terjangkau oleh kantong anak-anak sekolah. Kisarannya antara 1500 - 4000 rupiah. Walaupun marginnya tipis, tetapi karena volume penjualannya bagus, maka total margin mau tak mau ikut terdongkrak.
Promosi. Setiap pembukaan konter baru, Basri selalu menyebarkan minimal 1000 lembar brosur di lingkungan sekolah. Juga secara periodic diciptakan paket-paket makanan dengan harga yang kompetitif. Berdasar pengalamannya anak-anak sekolah menyukai system paket, karena harga makanan menjadi makin terjangkau. BAZZ Burger juga rajin mengikuti berbagai event dan bazaar baik itu di Bogor maupun di Jakarta. Ini membuat nama BAZZ menjadi tak asing di kalangan event organizer (terutama di kota Bogor).
Lokasi. Pada awalnya, dari empat konter hanya satu yang berada di sekolah. Namun, dari hasil pengamatan kini komposisinya sudah terbalik, semua konter berada di sekolah dan hanya satu yang berada di sebuah pusat perbelanjaan. Pertimbangan memilih sekolah karena market-nya "captive" atau sudah tersedia, dan anak-anak sekolah pasti jajan. Kini, walaupun harga jual burger (dan menu lainnya) berada di bawah harga jual normal di luaran, tapi secara total omzet dan keuntungan bisa berkali lipat. Jadi bisa dibilang, di kota Bogor, Basri kini menjadi pemain spesialis berjualan burger di sekolah. Untuk sekolah, dengan adanya konter BAZZ Burger juga diuntungkan, selain uang sewa yang dibayarkan juga sekolah mendapat jaminan murid-murid mendapat makanan yang sehat, bergizi dan diolah serta disajikan secara higienis.
Kini hampir dikata, Basri tinggal memungut hasil jerih payahnya, walau selalu dia bilang bahwa perjuangan masih panjang. Dengan rata-rata omzet total antara Rp 1 juta - Rp 1,5 juta per hari, boleh dibilang BAZZ sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, menggantikan penghasilan yang hilang ketika dia memutuskan berhenti kerja dahulu.
Dan yang terpenting, usaha ini juga sudah ikut menghidupi 8 karyawannya.
Cita-citanya mengembangkan BAZZ burger menjadi 10 konter adalah salah satu yang ingin segera dicapainya akhir tahun ini. Ketika ditanya cita-cita lain yang ingin dicapai dalam waktu dekat? "Menunaikan Ibadah Haji bersama istri dan Ibunda tercinta", ujarnya dengan mantap.
Anda berminat hubungi Basri Adhi telepon 08888 166 331