Susah Senang
Meneruskan Bisnis Warisan
Bagi anda yang menjalankan bisnis warisan orangtua atau bisnis keluarga, tentu memiliki banyak cerita yang dapat diungkapkan. Anda tentu berkeinginan bisnis yang anda jalankan, meskipun usaha warisan, tetap tumbuh dan berkembang, seperti yang dicita-citakan para pendirinya.
Regina Marta Elidia (32), pewirausaha asal Kelurahan Loa Ipuh, Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur ini memiliki cerita bagaimana ia harus berjuang mempertahankan bisnis keluarga. "Saya meneruskan bisnis yang sudah dirintis oleh ibu saya sejak tahun 1974 lalu," ujar ibu tiga anak yang kini memimpin Ulap Doyo Artshop ini.
Ulap Doyo Artshop merupakan perusahaan yang menjual dan memproduksi berbagai barang kerajinan dan manik-manik khas Kalimantan. Semula perusahaan ini hanyalah menjual hiasan dinding saja, tetapi dalam perkembangannya berkembang ke berbagai produk seperti taplak meja, kopyah, dompet dan lain-lain.
Sejak bisnis ini digeluti almarhum ibunya, ia merasakan soal pemasaran merupakan masalah paling mendasar yang harus dipecahkan. "Ibu dulu harus menjual barang-barang kerajinan ini dari pintu ke pintu. Tidak mudah menjualnya," cetusnya.
Dengan pengalaman yang dilakukan sang ibu, Regina mencoba mencari cara lain agar masalah pemasaran berbagai produknya dapat terpecahkan. Diantaranya Regina rajin mengikuti berbagai pameran, membuka workshop, dan membuka toko yang cukup representative di kawasan Tenggarong, Kutai Kartanegara.
Untuk dapat mengikuti berbagai pameran, Regina mencoba mendekati pihak Pemda Kutai Kartanegara. Ia meyakinkan bahwa produk-produk yang dipamerkan merupakan produk khas Kalimantan, khususnya berasal dari Tenggarong yang unik dan perlu diperkenalkan kepada dunia luar.
Dari langkah inilah ia sering memperoleh fasilitas untuk mendapatkan kesempatan mengikuti berbagai pameran di Jakarta, Surabaya, dan beberapa kota lain di Indonesia. "Saya juga aktif berpameran atau mendisplay produk di berbagai kegiatan di Tenggarong," ujarnya.
Dari acara pameran inilah ia memperoleh order yang sangat signifikan dari berbagai daerah, seperti pembeli dari Jakarta, Yogyakarta dan Surabaya.
"Rata-rata saya mengirim 30 lembar kain khas Kalimantan kepada mereka setiap bulannya. Memang pemesanan yang paling banyak adalah motif polos. Sebab mereka akan mengolah kembali bahan tenun ulap doyo menjadi beragam asesoris. Misalnya untuk hiasan kap lampu hias, lampu tidur yang dikombinasi dengan bahan lain, termasuk pewarnaannya," cetusnya.
Makin Diminati
Kini tenun ulap doyo semakin banyak diminati pelanggan. Selembar tenun ulap doyo dihargai Rp40 ribu hingga Rp150ribu tergantung ukuran dan bentuknya.
Ciri yang paling khas dari tenun ulap doyo ini adalah adanya bahan khas berupa tumbuhan khas Kalimantan yang mengandung serat-serat khusus.
Bahan-bahan ini harus direndam duhulu sehari semalam di sungai. Setelah itu baru dikikis diambil seratnya lalu dijemur dan diwarnai. Serat-serat ini jika sudah kering diplintir-plintir sehingga menjadi serat-serat benang.
"Proses inilah yang cukup menyita waktu sehingga bisa menghabiskan waktu pengerjaan sebulan hingga dua bulan untuk menjadi satu lembar tenun ulap doyo," ujarnya.
Makanya, tidak salah jika dalam sebulan, tidak cukup banyak tenun ulap doyo yang dapat diproduksi. "Lebih banyak permintaan daripada barang yang tersedia," cetusnya.
Kini, Regina mencoba memasuki pasar lain diberbagai negara. Pertimbangannya ia dapat menjual harga lebih mahal jika harus dijual kepada masyarakat lokal. Mekanisme pembelian dan pemesanannya yang sedang dicoba untuk diatur.
"Saya berharap mereka dapat memesan sekaligus membayar sehingga saya dapat menyediakan bahan baku dan membayar tenaga kerja penenunnya dalam waktu yang bersamaan," ungkap Regina kepada Estu Lestari dari majalah WK.
Kepada Estu, Regina mengungkapkan susah senang menjalani bisnis warisan keluarga. Sebisanya ia mengembangkan dengan harapan dapat lebih berkembang. Meskipun diakuinya, semula ia tak begitu paham dengan bisnis yang dilakukan oleh ibunya, namun setelah dengan terpaksa harus mewarisinya, tidak ada kata lain untuk mundur kecuali bertekad menjadikan bisnis keluarga menuju ke lebih baik. Itu terbukti karena di tokonya, yang berada di Jalan Mangkuraja, di Tenggarong, setidaknya dalam sehari omzetnya tak kurang dari Rp500ribu.
Bahkan yang membanggakan, ia kini memperoleh pesanan baru dari pengusaha Jakarta 100 lembar setiap bulan. Belum lagi berbagai manik-manik seperti sarung pensil, dompet, tas, baju, kotak tisyu yang bernuansa Kalimantan kini semakin banyak peminatnya.
Anda berminat berbisnis dengannya hubungi telepon 0541-661815, 0813 4667 3187